LAKI-LAKI DALAM ISLAM

Islam menganggap laki-laki memiliki posisi yang lebih kuat dari seorang perempuan, Arrijaalu ‎Qawwamuuna ‘alan nisa’. Konsep islam tentang pemposisian laki-laki ini sering disalah tafsirkan. ‎Gerakan feminisme merupakan salah satu bukti pemberontakan “pejuang” perempuan menuntut ‎tanggung jawab atas ketidak adilan yang kaum perempuan rasakan. Anggapan laki-laki lebih kuat dari ‎perempuan tanpa pembatasan yang jelas, menjadikan beberapa laki-laki memiliki sifat arogan kepada ‎kaum perempuan. Mereka menganggap perempuan adalah makhluk kelas dua yang harus ‎mendengarkan dan sedikit berbicara, perempuan diposisikan harus menerima keputusan laki-laki ‎tanpa adanya hak untuk mengemukakan argumentasi.‎
Konsep Islam tentang ayat di atas jika didalami lebih lanjut merupakan sebuah sinyalemen positif bagi ‎laki-laki untuk memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari perempuan. Pernyataan bahwa laki-laki lebih ‎kuat dari perempuan jika difahami secara mendalam tidak akan mengarah pada arogansi yang memiliki ‎imbas negatif. Ironisnya, ada beberapa laki-laki yang memegang teguh “kelelakiannya” sebagai ‎makhluk kelas satu dan melupakan tanggung jawab rumahtangganya sebagai laki-laki. Kebutuhan ‎ekonomi yang seharusnya menjadi tanggung jawab penuh laki-laki—dalam konsep Islam—tidak ‎dijalankan dengan benar. Perempuan dianggap telah dibeli dalam kontrak perkawinan dengan mahar ‎yang dibayarkan. Perempuan diperlakukan seperti sapi perah yang harus ‎menghasilkan susu sebanyak-banyaknya, sementa Tuan laki-laki hanya menunggu dan bersantai di ‎rumah.‎
Pemahaman-pemahaman yang keliru tentang konsep agama telah menyebabkan diskursus panjang ‎dalam problematika kehidupan orang islam. Agama tidak boleh difahami secara parsial demi ‎kepentingan kelompok dan golongan. Jika terjadi ketidakadilan atas nama agama, dapat dipastika ‎bahwa disitu ada ayat suci yang difahami dengan tidak benar. Islam, bahkan semua agama memiliki konsep rahmatan ‎lil alamin, tidak ada agama manapun yang menganggap ketidak adilan itu benar. ‎
Islam bukan saja agama yang mengurus hubungan langit antara Tuhan dan manusia. Islam ‎memposisikan urusan dunia sama pentingnya dengan urusan langit. Kalaupun ada laki-laki yang tidak ‎mau bekerja karena takut lupa dengan Tuhan, itu merupakan kesalahan besar. Mencari nafkah untuk ‎menghidupi keluarga merupakan jihad di negeri yang aman dan tentram. Islam menyatakan bahwa la ‎tarhiiba fil islam, tidak ada perilaku rahib—tidak memikirkan urusan dunia—dalam Islam. Islam tidak ‎membenarkan perilaku para pendeta (rahib)yang hanya mengurusi hubungan langit. Jadi tidak benar ‎mengatasnamakan kemalasan bekerja dengan atribut ke-Tuhan-an. Keputusan laki-laki untuk ‎menikah, merupakan keputusan yang penuh konsekwensi. Mereka harus bekerja keras untuk ‎keluarganya dengan tetap beribadah keras kepada Tuhannya. I’mal lidunyaka kaannaka ta’isyu ‎abadan, wa’mal liakhirataka kaanka tamutu ghadan….”.‎

Tentang ibnusamsulhuda

Pengajar Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang
Pos ini dipublikasikan di BUNGA RAMPAI. Tandai permalink.

Satu Balasan ke LAKI-LAKI DALAM ISLAM

  1. Aulia Apriana berkata:

    Good Job,
    I like it…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s